Sejarah

...

Sekitar tahun 1965, GKJTU (Gereja Kristen Jawa Tengah Utara ) khususnya Jemaat Salatiga memberitakan Injil ke masyarakat disekitarnya, baik di dalam kota maupun di luar kota Salatiga khususnya di Kabupaten Semarang. Pengabaran Injil di Kabupaten Semarang dilakukan di daerah lereng Merbabu antara lain Desa Ngaduman, Cunthel, dan Gedong Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah.

Yohanes 10:10b “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”, beberapa pendeta GKJTU ingin memberikan aksi nyata untuk membantu mereka yang membutuhkan di desa-desa tersebut, dalam rangka menyebarkan kabar baik serta meningkatkan kesejahteraan mereka.

Pada waktu itu, masalah pendidikan dan kesehatan merupakan masalah yang serius, sehingga masyarakat sulit berkembang, dan belum ada sekolah disana. Sebagaian besar masyarakat masih buta huruf. Keadaan yang demikian menjadi halangan besar bagi mereka untuk berkembang. Demikian juga dengan keadaan anak-anak mereka, lebih memprihatinkan lagi adalah tingkat kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anaknya sangat rendah, dan dianggap sebagai usaha yang tidak bermanfaat. Lebih baik kalo anak-anak bekerja di ladang. Pandangan tersebut berlangsung secara turun-temurun, bahkan sampai saat inipun pendapat tersebut masih ada diantara mereka. Selaian pendidikan, perhatian pada kesehatan juga terbatas. pada umumnya warga tidak mempunyai kamar mandi, WC ataupun penyediaan air bersih. di beberapa desa masih ada warga yang tidak biasa mandi, apalagi menggunakan sabun mandi.

Keadaan ini diperburuk oleh kebiasaan menyimpan pupuk kandang di dalam rumah. Bahkan, ternak (sebagai harta yang penting) tinggal serumah tanpa ada pembatas. Berbagai kotoran ternak (babi, sapi, kambing, ayam, dan kelinci) berserakan diseluruh ruangan di dalam rumah mereka.

Warga lereng Merbabu umumnya mengantungkan kehidupan pada hasil pertanian tradisional, dan belum berorientasi pada argobisnis. hasilnya hanya bisa untuk mencukupi kebutuan sehari-hari keluarga. Walau keadaan ekonomi dapat dikatakan masih buruk, tetapi ketika panen mereka baik dan bisa mendapatkan uang lebih, umumnya mereka membelanjakannya untuk hal-hal konsumtif, seperti menyelengarakan pesta perkawinan secara besar-besaran, pesta desa bahkan bermain judi.

Melihat kondisi tersebut, GKJTU Jemaat Salatiga tergerak memberitakan Injil dan juga memperbaiki kehidupan warga di lereng Gunung Merbabu. Semangat yang dilandasi oleh Firman Tuhan : " ... sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku" (Matius 25:40b). Oleh karena itu pada tahun 1973, sinode GKJTU bekerja sama denga LEPKI (Lembaga Pelayanan Krsiten Indonesia) di Malang, Jawa Timur, melaksanakan proyek pengembangan masyarakat yang pelaksanaanya bekerja sama dengan warga setempat.

Program yang diselenggarakan meliputi bidang pendidikan, kesehatan dan peningkatan infrastruktur desa. Program yang dilaksanakan adalah Pemberantasan Buta Huruf, Pendidikan kesejahteraan Keluarga (PKK), Pos Pelayanan Terpadu bagi bayi dibawah lima tahun (BALITA) dengan taman gizi, kesehatan dengan proyek-proyek percontohan, rumah sehat, pelebaran/pengerasan jalan, juga berpartisipasi di dalam pengadaan dana bagi pembangunan gedung sekolah dan pengadaan modal kerja. Semua proyek melibatkan peran serta masyarakat (Swadaya Masyarakat) di wilayah lereng gunung Merbabu. Tim pelaksanan program ini adalah Mirahingsih, S,Th, Joko Sutarno, Ny. Tobing, Henny Koto, Sastro Harjono dan Suprapto.

Mendirikan Yayasan

Program disambut Warga dan berkembang hingga pada tahun 1976. Badan Pekerja Harian GKJTU menunjuk Ibu Mirahingsih, STh (Ketua Pengurus Proyek) untuk mendirikan Yayasan Sosial Kristen yang berbadan hukum . Tanggal 10 November 1977 berdiri Yayasan Sion Salatiga. Nama Sion diambil untuk memaknai misi sebagai gunung sumber penghidupan, seperti Gunung Sion bagi bangsa Israel.

Logo atau lambang Yayasan Sion Salatiga adalah dua ikan, lima roti yang diletakkan dibawah salib Yesus dalam bahtera, dan terletak dalam lingkaran tertulis Yayasan Sion Salatiga. Dua ikan dan lima roti melambangkan kebutuhan hidup manusia seutuhnya. Hal ini dilakukan melalui pelayanan karitatif, transformatif dan reformatif, dan sekaligus menyadari kemampuan Yayasan Sion Salatiga yang terbatas. Salib melambangkan keselamatan, berkat dan pengharapan yang berasal dari Tuhan Yesus Kristus.

Bahtera melambangkan sarana / alat menuju kehidupan yang lebih baik di dunia yang penuh dengan tantangan. Tulisan Yayasan Sion dalam lingkaran melambangkan identitas dan rasa kasih yang tiada ada putusnya.

Perjalanan pelayanan Yayasan Sion Salatiga tidak lepas dari tantangan dalam internal yayasan maupun dari luar, diantaranya kurangnya kemandirian dana, rendahnya kualitas sumber daya manusia, perangkat operasional yang belum memadai, minimnya dukungan gereja-gereja, dan lokasi pelayanan di pedesaan yang masyarakatnya hidup dibawah garis kemiskinan. Tantangan eksternal yang muncul adalah anggapan bahwa Yayasan Sion "kaya", menurunnya mendukung pelayanan bersifat Charity, sentimen agama, pandangan masyarakat bahwa mutu sekolah swasta lebih rendah dari pada sekolah negeri, dan rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengembangkan SDM.

Program Pelayanan

Program pelayanan Yayasan Sion Salatiga tersebar di 4 (empat) divisi yaitu :

  1. Divisi Pemberdayaan Masyarakat yang menangani pelayanan adopsi, pemberdayaan perempuan(pendampingan dan memberi pelatihan-pelatihan), tanggul bencana dan Pelayanan Pos Kesehatan "Lentera Mas"
  2. Divisi Suporting Unit dan Kemandirian / Divisi Usaha Produktif dan Kemandirian yang mengelola berbagai bentuk Kredit, Penggaduahan sapi, Persewaan, peternakan, budidaya jamur dan program penggalangan dana kemandirian.
  3. Divisi Pendidikan mengelola 2 SD, 1 SMP, 1 SMK dan 2 Asrama.
  4. Divisi Administrasi dan Keuangan yang bertugas mengelola administrasi dan keuangan yayasan serta personalia.