Dormitory

...

Dormitory

Latar Belakang

    Panti Asuhan Sion didirikan sebagai tindak lanjut dari perkembangan pelayanan Yayasan Sion di bidang pendidikan dan Prokeska (Proyek Kesejahteraan Keluarga dan Anak) yang dahulu namanya Propeka (Proyek Pengembangan Keluarga dan Anak). Dengan adanya Sekolah Dasar dan Propeka, maka banyak anak warga jemaat GKJTU di Ngaduman dan sekitarnya dapat menyelesaikan pendidikan dasar dan mulai berminat untuk melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama. 

    Jarak desa Ngaduman yang sangat jauh dari kota Salatiga yang merupakan tempat mereka harus melanjutkan sekolah merupakan hambatan bagi terwujudnya niat tersebut. Dengan keterbatasan yang ada, pengurus Yayasan Sion berupaya untuk menampung anak-anak yang akan melanjutkan sekolah di Salatiga, meski harus dititipkan di rumah warga gereja. 

    Sebuah tekad yang besar dan mulia diyakini oleh pengurus pasti akan mendapatkan pertolongan dari Tuhan. Keyakinan itu terbukti dengan berdirinya Asrama Panti Asuhan Sion yang ada di Salatiga maupun Getasan. 

    Panti Asuhan Sion mulai pelayanannya pada thun 1977, dengan menampung 6 anak (putra dan putri) dari Ngaduman dan Gedong dan dititipkan pada kel Bp. Soeprapto, keluarga Tobing dan keluarga Ibu Sumartin. Pada bulan Oktober 1978, secara resmi panti Asuhan Sion diresmikan. Untuk mengembangkan pelayanannya P.A Sion Salatiga menyewa sebuah rumah sederhana milik Bp. Yakobus di jalan Lesman Loji dengan uang sewa sebesar Rp. 30.000,00 per tahun serta disewa selama 5 tahun. Uang sewa sebesar itu merupakan bantuan dari seorang dosen UKSW yang bernama Pdt. H. De Waard. Anak yang pada awal penyewaan rumah itu berjumlah 10 orang (putra dan putri). Pelayanan Panti Asuhan ini dirintis oleh Yayasan Sion dan dikelola oleh Ibu Mirahingsih, STh sbagai ketua Yayasan Sion. 

    Pelayanan Yayasan Sion semakin berkembang Pada tahun 1978, Yayasan Sion Salatiga sekolah SLTP (pada waktu itu SMP) di wilayah Kecamatan Getasan. Berdirinya SLTP ini juga menuntut perkembangan Panti Asuhan Sion, karena banyak siswa SLTP yang membutuhkan tempat tinggal di sekitar sekolah. Mereka berasal dari desa-desa di lereng gunung Merbabu yang sangat jauh dari sekolah. Menanggapi keadaan tersebut, Yayasan Sion mengembangkan pelayanan Panti di wilayah Getasan dengan menyewa sebuah rumah milik seorang warga GKJTU Getasan. Kemudian untuk memudahkan pengelolaan panti, yayasan mendirikan gedung Panti Asuhan Sion di dekat lokasi SLTP Kristen Getasan. Diawal pelayanannya P.A Sion Getasan dikelola oleh seorang pengasuh dibantu seorang masak. Pada tahun 1984-1990 Ibu Dewi menjadi pengasuh pertama P.A Sion Getasan dibantu oleh Ibu Rasiyem, Ibu Sardjono, Sdri Yudi dan Sdri Umi sebagai tukang masaknya. Tahun 1990-1991 pengasuh P.A Sion Getasan adalah Ibu Tarti dan digantikan oleh Ibu Sun Warsito dari tahun 1991-1995. Tahun 1995 P.A Sion Getasan mengalami kekosongan pengasuh. Maka Yayasan memberikan tugas kepada 2 orang Guru SLTP Kristen untuk tinggal di Asrama dan mengawasi anak-anak secara bergantian, yakni Bp. Sutarto dan Bp. Otniel Hendrat D.P Tanggal 1 Mei 1995 P.A Sion Getasan diasuh oleh Ibu Paini, SAg dan digantikan oleh Bp. Daniel Bawa Kristanta, SAg, mulai 1 Agustus 1999 sampai sekarang, dibantu oleh Sdri. Erwati sebagai tukang masak. saat ini Asrama Sion Getasan menampung 22 anak asuh terdiri dari 18 anak perempuan dan 4 anak laki-laki. 

    P.A Sion Salatiga pun semakin berkembang. Tahun 1990, Yayasan Sion berhasil mendirikan satu gedung untuk panti Asuhan Sion Salatiga. Letaknya di Jalan Osamaliki Rt 09/X yang sekarang RT 4 RW X Kelurahan Sidorejo kota Salatiga. Ibu Mirahingsih, STh sebagai pengelola/pengasuh dibantu tukang masak bernama Gini, setelah Ibu Gini lanjut usia digantikan oleh Sdri. Jumirah, kemudian Sdri. Surani dan Sdri. Kasiem. Tanggal 1 Juni 1999, Ibu Mirahingsih sebagai Pengasuh P.A Sion Salatiga sekaligus Ketua Yayasan Sion dipanggil Tuhan. 

    Tanggal 1 Juni sampai tanggal 20 Juni 1999, P.A Sion Salatiga mengalami kekosongan pengasuh. Tanggal 21 Juni 1999, Yayasan menugaskan kepada Bp. Otniel Hendrat D.P untuk tinggal di Asrama dan mengawasi anak-anak. Ibu Hartinigsih yang diangkat sebagai pengganti Ibu Mirahingsih terhitung mulai 1 Agustus 1999 dan mulai melakukan tugasnya sebagai pengasuh pada tanggal 8 Juli 1999 sambil tetap melakukan tugasnya sebagai Sosial Worker di Prokeska Zion II Kendal. Karena pengawasan panti asuhan tidak memungkinkan untuk dilakukan secara part time, maka sejak saat itu sampai sekarang pengasih Asuhan Salatiga adalah Ibu. Hartiningsih, dibantu oleh Sutini sebagai tukang masak. Saat ini Asrama Panti Asuhan Sion Salatiga menampung 28 anak terdiri dari 16 anak perempuan dan 10 anak laki-laki. 

    Mulai tahun 1993 Yayasan Sion mengangkat Ibu Sumini sebagai tenaga administrasi yang berkantor di Yayasan. Tugasnya mengurusi asrama Sion Salatiga dan Getasasn secara administratif. 

TUJUAN

    Tujuan didirikannya Panti Asuhan Sion adalah "menghadirikan karejaan Allah bekal kepada anak asuhan di bumi, dengan memberikan bekal kepada anak asuh agar menjadi orang yang dewasa, mandiri dan beriman". 

SASARAN

    Sasaran Pelayanan Panti Asuhan Sion.

  1.  Anak warga Jemaat GKJTU yang kurang mampu dari segi daya dan dana
  2. Anak warga jemaat GKJTU yang jarak bertempat tinggal dari Sakatiga (dari kota lain)
  3. Warga gereja yang membutuhkan dilihat dari segi alasannya (jarak, daya dan dana).
  4. Warga masyarakat (non Kristen) yang kurang mampu dan bersedia mengikuti semua peraturan di asrama

SUMBER DANA PANTI ASUHAN SION 

    Untuk kelangsungan kegiatan, baik kebutuhan makan, pendidikan DII, P.A Sion memperoleh bantuan dana dari:

  1.  Donatur warga gereja, baik dari GKJTU Salatiga maupun Gereja lain di sekitar Salatiga.
  2. Bantuan Pemerintah (secara insindental)
  3. Lembaga Sosial lain yag ada di Indonesia.
  4. Donatur warga gereja dari luar negeri.
  5. Partisipasi masyarakat, khususnya sari orang tua anak.

KEGIATAN

  1. Kegiatan bidang kerohanian, meliputi renungan harian (pagi dan malam), Pemahaman Alkitab, Karakterisasi, mengisi pujiaan di gereja, mengikuti kegiatan gerejawi, dan perkunjungan kejemaat-jemaat GKJTU di luar Salatiga.
  2.  Kegiatan penunjang Pendidikan Sekolah; les bahasa Inggris dan belajar kelompok.
  3. Kegiatan latihan kepemimpinan meliputi: latihan menjadi Guru Sekolah Minggu, memimpin kebaktian/PA dan pembinaan tentang kepemimpinan diri dan lingkungan.
  4. Latihan kemandirian fisik dan mental : meliputi menyusun dan melaksanakan piket harian untuk kebersihan asrama, peralatan asrama dll, membina dan merintis embrio koperasi serta latihan menabung untuk keperluan kegiatan asrama seperti, piknik dll.
  5. Kegiatan Hidup bermasyarakat meliputi: membersihkan lingkungan asrana, mengikuti kerja bakti lingkungan RT dll.
  6. Kegiatan Latihan fisik dan mental, meliputi : senam pagi, retreat dan darma wisata.
  7. Kegiatan pengembangan Seni dan Budaya, meliputi: latihan band, latihan organ tunggal, latihan paduan suara/Vocal Group dan mengadakan kebaktian dengan bahasa Jawa.